Goresan Tangan 4

· CERPEN, Karyaku...
Penulis

Judul : Gadis di Koridor Sekolah

Nama pemain : Eva, Imran, Roni (kakak Eva), jika ada pemain lain, silahkan ditambahkan.

Genre: Horor

Pada: 06 dan 07 Juni 2013

===

Eva mengusap-usap dahinya dengan gusar. Kedua matanya tak lepas mengamati rintik hujan yang semakin menderas.

Sesekali ia melirik jam tangan doraemon di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul lim sore. Namun, kakak lelakinya yang berjanji menjemput Eva seusai ekskul paskibra itu tak kunjung datang.

Kini pandangan Eva beralih pada koridor yang sudah sepi.

Perasaan tak enak mulai menjalar dalam dirinya. Teringat akan beberapa kisah misteri yang sempat ia dengar sejak awal masuk ke sekolah ini.

Eva menoleh ke samping kiri. Mencari-cari kalau saja masih ada siswa lain yang belum pulang.

Sejurus kemudian, ada kelegaan dalam dirinya. Tatkala kornea matanya menangkap sosok gadis berseragam putih abu-abu yang berdiri sendirian di ujung koridor. Rambut hitamnya tampak melambai tertiup hembusan angin. Tampaknya gadis itu juga sedang menunggu jemputan. Tapi jika dilihat dari seragamnya, gadis itu bukan anak kelas 12 seperti dirinya. Atasan putih yang gadis itu kenakan terlihat agak kusam.

Tanpa pikir panjang, Eva segera bergegas mengemasi buku dan tas ranselnya. Setidaknya ia tak sendirian sekarang. Lebih baik menunggu jemputan bersama dengan gadis itu, pikir Eva. Namun saat ia kembali menoleh ke tempat gadis tadi berdiri, Eva tertegun. Ujung koridor itu tampak kosong. Tak ada sosok gadis yang sempat dilihatnya tadi di sana.

“Astaga, ke mana perginya gadis yang tadi ada di sini.” Eva terkejut.

Tetapi Eva tetap positive tinggking. “Mungkin gadis itu sudah pulang kali yah,” ucap Eva.

Kakak Eva tiba dengan motor gedenya. Kakaknya menunggu Eva di gerbang sekolah. Eva berjalan ke arah kakaknya. Mengabaikan gadis yang tiba-tiba menghilang itu.

“Lama banget sih, Kak,” kata Eva kesal.

Sorry, tadi ketiduran, tidak ada yang bangunin.” Kak Roni menggaruk-garuk kepalanya.

Eva langsung mendaratkan pantatnya di atas motor, belakang Kak Roni. Kak Roni menstrater motornya dan menarik gasnya perlahan. Sejurus itu, perlahan motor tersebut membawa keduanya meninggalkan sekolah gerbang sekolah.

Tak sengaja, saat Eva menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok gadis yang tadi di pintu gerbang sekolah. Gadis itu tertunduk lesu.

“Kakak, gadis itu muncul lagi. Dia beneran manusia atau bukan? Dari tadi ngikutin Eva terus, aku takut.” Eva memegang erat jaket baseball berwarna merah, Kak Roni.

“Ah, itu mungkin perasaan kamu saja kali. Siapa pun itu, ngapain ngikutin kamu?” ujar Kak Roni menenangkan Eva.

Gadis itu mengangkat kepalanya. Terus memandang ke arah Eva. Eva takut, tapi ia juga penasaran. Ia memandang gadis itu, memastikan benar manusia atau bukan. Astaga, ada bercak merah di bawah matanya.

Eva kaget bukan main. “Darah, itu benar darah. Kak! Eva takut, Kak,” pekik Eva ketakutan. Jantungnya berdegup tak menentu. Bulu kuduknya berdiri semua. Hawa dingin yang aneh menyusup di pori-pori kulitnya.

Tiba-tiba motor Kak Roni mogok. “Sial!” Roni menggerutu. Kemudian meninju tangki depan motor itu.

“Lhoh Kak, kok mogok sih. Gimana ini?”

Eva menoleh ke belakang. Kosong, gadis itu menghilang.

“Syukurlah, tapi ….”

Kak Roni turun dari motor, mencari tahu penyebab motornya mogok. Eva pun ikut turun. Meskipun gadis itu menghilang, tapi ia masih ketakutan. Suasana begitu mencekam. Sepi tidak ada satu pun orang lewat. Apalagi motor ini mogok tepat di bawah pohon besar.

Eva menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat keadaan sekitar. Ia menarik-narik jaket Kak Roni.

“Eva, jangan ganggu Kakak dulu. Kakak lagi konsentrasi benerin nih motor.” Ucap Roni.

“Tapi Kak, Eva takut. Takut jika gadis itu muncul lagi. Masak dia muncul-hilang, muncul-hilang gitu. Dia tidak lagi bermain petak umpet. Lagian dia tidak ada temanya. Dan perlu Kakak tahu, tapi ada bercak darah di bawah kelopak matanya. Apalagi kalau bukan hantu.” Eva menceritakan apa yang dilihat tadi. Ia sendiri bergindik ngeri.

Tapi Kak Roni tak mau hanyut pada cerita murahan yang tak masuk akal itu. “Tak ada siapa-siapa Eva. Mungkin kamu kecapekan. Sebaiknya kamu segera istirahat setelah nanti sampai rumah.” Roni mengacuhkan cerita Eva.

Roni mencoba menstarter motornya lagi, setelah mengecek, ternyata tidak ada yang rusak. Dan beruntunglah, mesin motor itu hidup. Kak Roni naik ke motornya, diikuti Eva. Tubuh Eva masih bergetar, ia tak bisa tenang. Bulu kuduknya masih berdiri, badanya panas dingin. Ia jelas-jelas melihat sosok gadis murung itu.

Eva kembali menoleh ke belakang dan gadis itu muncul kembali dengan senyuman yang begitu mengerikan. Eva sontak menutup matanya, membalikkan pandangan, dan memeluk kakaknya dengan erat.

“Ada apa lagi?” tanya Kak Roni kaget akan pelukan Eva.

“Gadis itu muncul lagi, ia memsang senyum aneh, mengerikan.” Tubuh Eva menggigil.

“Itu halusinasimu saja, jelas-jelas Kakak tidak melihatnya.”

Eva tak bisa menepis rasa takutnya, mulutnya terlihat tak bisa berhenti komat-kamit merapalkan doa. Doa apa pun itu yang melintas di kelapanya.

Tiba-tiba gadis itu seperti melayang di samping Eva. Gadis itu memandang Eva, tersenyum aneh padanya. Dan Eva melihatnya.

“Kakak…! Cepat, gadis itu.” Histeris Eva.

“Eva! kamu kenapa sih?” Roni mulai terdengar kesal atas tingkah Eva sejak tadi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan Eva. Mana mungkin hantu munncul petang-petang gini. Biasanya lewat tengah malam.

Eva memeluk Kak Roni erat. Menarik-narik jaket Kak Roni, sampai membuat Kak Roni hilang kendali, motor pun oleng. Kak Roni  menoleh sedikit ke belakang. Namun Kak Roni tak melihat apapun kecuali adiknya yang ketakutan.

“Eva.., kamu jangan bikin kakak bingung dong! Sebenarnya ada apa sih?” kali ini Roni menghentikan motornya.

Tiba-tiba Kak Roni merasakan angin berhembus membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.

“Sepertinya kita harus cepat pergi dari sini. Aku merasa tidak enak.” Roni merasakan seluruh indranya menangkap sesuatu yang tak biasa.

“Tuh kan, Kak? Cepetan gas motornya.”

Kak Roni merasakan ada sosok yang sedang mengikutinya. Sedangkan Eva masih memeluk Kakaknya erat dengan penuh ketakutan.

“Kak, Eva takut…” ucap Eva sembari mencengkeram kemeja kakaknya.

Tiba-tiba saja gadis itu sudah berada di depan mereka. Kak Roni kaget bukan main. Ia langsung membelokkan motornya dan menarik gas lebih cepat.

“Pegang yang kencang, Eva!” perintah Roni.

Wuzzzz…Roni menggigil merasakan angin dingin menerpanya ketika melewati gadis tersebut. Ia pun tak berani menoleh ke arahnya.

“Hihihi… hihihi…” Gadis itu menyeringai lalu tertawa.

Eva dan Kak Roni tak berani menatap. Eva menutup matanya, sedangkan Kak Roni fokus memandang ke depan. Mencoba mengabaikan suara itu. Tubuh mereka gemetaran.

Eva tertegun. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Suasana mencekam seolah mendukung ketakutan yang kini dirasakan Eva. Pikiranya mulai melayang ke sebuah cerita tentang peristiwa kematian seorang siswi sekolah yang meninggal gantung diri di kamar mandi sekolah beberapa tahun silam.

“Apa mungkin dia…?” pikir Eva penasaran, masih dengan suasana yang mengerikan.

Mendung yang menggantung sejak tadi sore memuntahkan air juga. Jarak pandang ke depan pun berkurang.

“Sudah cukup, aku tidak tahan dengan ini semua,” pekik Eva.

Tiba-tiba petir menyambar, mengantarkan kilat yang menerangi jalan itu seketika.

***

Keesokan paginya, Eva sakit. Badanya panas tinggi. Ia masih ketakutan. Tubuhnya mengigil. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya masih tak mampu. Ia tak masuk ke sekolah. Kejadian petang kemarin sukses membuatnya tepar.

“Ini bukan hanya khayalanku, Imran. Silahkan kamu tanya Kak Roni kalau nggak percaya dengan ceritaku …” ucap Eva lirih, meyakinkan Imran yang datang menjenguknya pagi itu.

“Ah, yang benar Eva? masa masih ada hantu,  di jaman modern kayak gini?” kata Imran tak percaya.

Imran sepertinya masih tidak percaya. “Oke nanti aku tanya  Kak Roni. Tapi kalau memang benar dia hantu anak sekolah seperti ceritamu, aku akan coba cari tahu.”

“Lebih baik jangan, aku takut kamu kenapa-kenapa. Cerita hantu yang beredar di sekolah itu benar Im. Percayalah,” Eva menarik nafas sebentar, “aku … aku benar melihatnya di koridor sekolah, terus di gerbang dan terus mengikutiku, Im. Dan dia memakai seragam sekolah kita, aku tak mungkin salah lihat. Dan aku seperti pernah melihat wajah itu ….” lanjut Eva dengan  raut wajah ketakutan.

“Siapa Eva?” tanya Imran.

Tiba-tiba wajah Eva terlihat memucat. “Dia… seperti gadis dalam foto yang aku temukan di sebuah buku novel yang aku pinjam di perpustakaan beberapa hari yang lalu. Foto itu tertulis tahun 2010. Tepat saat Kakakku Roni masih menjadi siswa di sekolah yang sama.” jawab Eva menjelaskan.

“Kau ingat tidak cerita tentang gadis yang di temukan tewas di gudang belakang saat kita duduk di kelas sebelas?”

“Iya, aku ingat. Bukankah kasus itu sudah lama ditutup. Bahkan gudang belakang pun saat ini selalu terkunci rapat ” jawab Imran mengernyitkan dahinya.

“Kau sudah beritahu Kak Roni tentang cerita ini?” tanya Imran

“Sudah, tapi dia menutup mulut, tak ada komentar sedikit pun. Wajahnya berubah pucat. Aku tak berani menanyakannya lagi.” Tatapan Eva menerawang jauh ke luar jendela.

“Aku akan coba mencari tahu kebenarannya, kalau sudah ada titik terang, baru pelan-pelan kita tanyakan pada Kak Roni, gimana?” Imran memberikan usul.

“Iya, aku setuju dengan usulanmu,” ucap Eva.

Setelah berbincang-bicang cukup lama jarum jam telah menunjukkan pukul 10.00.

“Hmm… Eva aku pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh, aku sayang kamu.”

“Terima kasih, ya, Im.”

Eva Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Eva berharap, Imran bisa menyelesaikan misteri ini secepatnya, Eva tak kan berani untuk ke sekolah lagi, jika hal ini belum terselesaikan.

Obat yang diminum Eva membuatnya mengantuk. Setengah jam kemudian Eva tertidur.

***

Gadis itu berlari, masuk ke dalam kelas yang telah kosong. Memilih suatu tempat yang dirasanya aman untuk menyembunyikan tubuhnya yang kurus di balik kursi dan meja yang berjajar rapi. Jantungnya berdegup kencang, memacu keringatnya bercucuran.

Eva berjingkat mendekatinya. Dengan sangat hati-hati, ia berdiri dan mengulurkan tangannya. Mata gadis itu menatap kosong. Dan, sedetik sebelum tangan mereka bersentuhan, gadis itu menghilang, hanya meninggalkan suara serak dan nyaris tak terdengar, “Tolong aku, temui aku di gudang …”

“Eva… Bangun, Eva.” Teriak Roni yang berdiri di tempat tidur Eva.

Eva terperanjat, sesuatu membangunkan alam bawah sadarnya. Ia perhatikan sekelilingnya. Ia pastikan masih berada dalam kamanya. Kemudian memadangi Roni dengan tatapan kosong, nafasnya teregah-engah, wajanya memucat.

“Kenapa kamu, Eva?”

“G-g-gis itu, Kak.” Eva memeluk erat Roni. “Gadis itu hadir di mimpiku. Dia memintaku untuk ke gudang sekolah, Kak,” ucapnya lirih.

Jendela yang tersibak oleh angin yang masuk melaluinya, memberi suatu pandangan alam yang sudah ranum. Eva menengok jam weker doraemon di samping tempat tidur. Sudah menunjukan jam 5 sore.

Eva masih menimang ajakan gadis yang hadir dalam mimpinya. Pikirannya dipenuhi segala macam tanya, namun ketakutan seperti menekannya kuat-kuat untuk membuang jauh semua itu.

“Apa maksudnya, aku harus menolong dia?” pikir Eva, “Apa mungkin aku harus datang ke gudang kosong itu seperti keinginannya?”

“Sudahlah, dek. Jangan terlalu difikirkan,” ucap Roni mencoba menangkan Eva. “Mimpi itu Eva kamu yang terlalu memikirkannya, lebih baik fikirkan saja kesehatanmu.”

“I-iya, kak.” Sahut Eva dengan wajah yang masih memucat.

Roni pun keluar meninggalkan Eva yang masih terlihat kebingungan.

Eva mengingat-ingat runut kejadian yang dialaminya kemarin, semua yang hadir dalam mimpi itu seakan memberi pertanda bahwa ada yang disembunyikan oleh kak Roni. Ia bergegas mengambil handphone-nya. Dengan cepat ia mengetik sms untuk Imran.

“Imran, Cepat ke Rumahku usai maghrib nanti, ada hal penting akan kuceritakan padamu.”

Eva masih duduk terpekur di sisi ranjang tidurnya. Pikirannya jadi kacau. Kalau gadis itu ingin aku menolongnya, kenapa dia datang menakutiku? bisik hatinya agak kesal.

Sesekali matanya melirik handphone di sampingnya. Masih belum ada balasan dari Imran.

“Semoga dia datang maghrib nanti.”

Hatinya diantara harap dan cemas. Besar harapannya Imran akan datang dan membantu memecahkan masalah ini. Dan kecemasan tentang sesuatu yang disembunyikan kakaknya, semakin besar ketika selintas bayangan wajah Roni mampir di benaknya.

Eva beranjak dari tempat tidur. Menatap keluar jendela.

“Takkan selesai, jika aku hanya memikirkan tanpa melakukan suatu hal, mungkin aku harus menuruti ajakan gadis itu.”

Tanpa pamit, Eva mengendap-endap meninggalkan kamarnya. Tujuannya hanya satu, gudang kosong di belakang lab sekolah.

Tak sengaja Roni melihat gelagat aneh pada adiknya, lewat secara diam-diam di belakang Roni yang sedang menonton TV.

“Eva mau ke mana kamu?!”

Klik!

Langkah Eva pun terhenti seketika.

“Anu, keluar bentar. Sama Imran, kok,” jawabnya asal.

“Tapi kamu kan masih sakit.”

“Aku sudah sembuh, Kak. Lihat nih.” Eva menggerakkan kedua tangannya ke atas-bawah. “Lagian perginya  kan sama Imran.”

Oh yaudah, pulangnya jangan kemalaman.”

***

Mendung masih menggantung di langit sebelah barat. Angin dingin berhembus pelan, menyapu wajahnya Eva.

“Si Imran kemana lagi? Lama Banget anak ini,” gerutunya dalam hati.

“Ini sudah selepas maghrib, tidak ada waktu lagi, aku harus bertindak sesuatu.”

Ia berjalan mencari kendaraan yang dapat mengantarkannya. Ia malah berpapasan dengan Imran. Ia pun menceritakan dengan runut setiap kejadian yang aku alami dalam mimpi sore tadi.

“Yakin, kamu bakal ke sana, Eva?” Imran meyakinkan. Wajahnya mengisyaratkan keraguan.

“Tak ada jalan lain, aku rasa ia ingin menyampaikan sesuatu padaku.” Direkatkanya sweeter yang membungkus tubuh Eva, kedua lengan ia rekatkan di pinggang Imran.

***

Gerbang sekolah terasa seperti pintu kegelapan. Beberapa lampu yang menerangi beberapa bagian kelas tampak remang membawa suatu suasana yang mencekam. Imran memarkirkan motornya tepat di depan gudang sekolah sesuai permintaan Eva.

Perlahan, Eva dan Imran berjalan dengan berjinjijit agar suara sandalnya tidak terdengar. Eva menoleh ke kanan dan kiri seperti seorang pencuri yang takut ketangkap basah. Kemudian, ia kembali melanjutkan langkahnya setelah keadaan dirasakannya aman. Namun, tiba tiba, ia merasakan bagian tengkuk belakang lehernya meremang. Ia merasakan ada seseorang yang lewat.

Di keheningan malam, Eva merasakan dinginnya angin semakin terasa menusuk-nusuk. Sadar kondisinya memang sedang kurang sehat, dia merapatkan sweeter yang dipakainya. Ia memegang tangan Imran.

Eva kekeh dengan tujuannya. Tak dihiraukannya bayangan yang lewat tadi, Eva rasa penasarannya lebih besar, sehingga rasa takutnya pun terkalahkan.

Kini mereka sudah berada di depan pintu gudang. Pintu kayu berwarna cokelat yang telah memudar.

“Kamu yakin, Eva, bakal masuk ke gudang itu?” Tanya Imran.

“Iya, aku yakin.” tegas Eva

BRAKKKK!!!

Terdengar bunyi dalam gudang. Eva dan Imran ketakutan. Tapi mereka tetap harus melanjutkan misinya.

Perlahan mereka membuka pintu gudang yang memang tidak pernah dikunci. Hati-hati Imran mendorong pintu gudang menggunakan ujung senter. Pintu tua itu berderit perlahan, seperti jeritan sukma yang memilukan.

Keadaan di dalam begitu gelap. Sehingga mengharuskan Imran menyalakan senter yang sudah dia bawa dari tadi.

Sial. Senter yang dibawanya ternyata memberi cahaya yang redup. Hhhh… Jangan-jangan baterainya sudah mau habis, Imran membatin.

“Gawaat Eva baterai senterku habis,” kata Imran. “Kamu bawa senter?”

Eva menggelang.

Senter menyala redup persis mengenai dinding di depan mereka. Bersamaan dengan itu, keduanya terpaku dengan apa yang dilihatnya.

“Kak Roni?!” teriak Imran

“Kak Roni, kenapa ada di sini? Bukannya tadi Kakak masih di rumah?” Eva panik, mendapati Roni yang terbujur kaku terduduk bersandar di dinding.

Roni hanya diam, kepalanya tertunduk. Eva dan Imran berjalan menghampirinya.

Imran menarik tubuh Roni pelan. Tapi Roni tetap tak bergeming. “Bantu aku menggeser tubuhnya, Eva. Cepat. Roni tak sadarkan diri.”

Tubuh Roni bergetar, Eva meraih tangan Roni yang dingin bermandi keringat.

Tiba-tiba gadis itu muncul dari belakang tubuh Roni. Imran dan Eva terperanjat. Mereka langsung segera menggeser tubuh Roni.

Ketika tubuh Roni bergeser ke samping, tubuh cewek dengan wajah yang hampir membusuk itu makin jelas terlihat. Imran dan Eva terperanjat lagi. Mereka mundur kira-kira dua meter.

“Celaka!” teriak Imran, “Apa yang harus kita lakukan, Eva?”

Sesuatu seperti membungkam mulut Eva, hanya tubuhnya seperti dialiri sengatan listrik.

Mata gadis itu tiba-tiba terbuka. Eva dan Imran gemetaran. Mereka berdua ingin lari, tapi kakinya terpaku di sana. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Eva. Imran hanya memandang tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.

Tubuh Eva terangkat sejajar dengan tubuh gadis itu.  Seperti logam yang ditarik magnet, perlahan tubuh Eva seolah melayang menghampiri gadis itu. Tatapan matanya kosong. Eva seperti terbius, tak sadarkan diri.

“Eva, kemarilah! Jangan ke sana!” Wajah Imran pucat. ia khawatir pada Eva.

Setelah jarak antara Eva dan gadis itu dekat, Eva mengulurkan tangannya, mengambil sesuatu yang diberikan gadis itu. Sinar putih terpancar begitu saja di antara genggaman tangan Eva dan gadis itu.

Bingung, antara menjaga Roni dan meraih Eva. Imran diam seperti patung, hanya deru nafasnya yang memburu.

Imran semakin khawatir, tak perlu pikir panjang, ia melepaskan tubuh Roni, lalu berlari mengejar Eva. Namun gadis itu melirik ke arah Imran, sehingga membuat Imran terpental.

Imran terduduk tak berdaya. Ia hanya bisa menyaksikan keanehan di depan matanya. Mulutnya ternganga. Tenggorokannya tercekat. Tubuhnya bagai terpaku di lantai papan gudang itu.

Setelah sesuatu yang bercahaya itu berpindah tangan, tubuh Eva lemas dan ambruk. Gadis itu tiba-tiba menghilang bersama hembusan angin berbau mawar.

Imran langsung berlari ke arah Eva. “Eva, kamu kenapa!” teriak Imran

Perlahan Eva membuka mata, “Im..Imran, aku tidak apa-apa.”

“Apa ini?” Eva menatap kertas yang berada dalam genggamannya.

Eva kemudian membuka kertas tersebut dan membaca tulisan di dalamnya.

Dear sayangku, Roni.

Maafkan aku telah mengecewakanmu. Aku tau, kamu begitu mencintaiku. Namun, kehadiran Imran membuatku berpaling dari mu.

Dear sayangku, Roni.

Maafkan aku telah mengecewakanmu. Aku tidak menyangka, aku bisa berselingkuh di belakangmu. Sampai akhirnya hubungan ku dengan Imran membuatku berbadan dua.

Dear sayangku, Roni.

Maafkan aku telah mengecewakanmu. Imran begitu bersikeras untuk bertanggung jawab. Tapi, aku tidak mau. Aku tidak mau melihatmu sedih, aku tidak mau melihat mu kecewa kapada ku.

Dear sayangku, Roni.

Maafkan aku telah mengecewakanmu. Biarlah, biarlah ku akhiri ini dengan caraku. Mungkin dengan begini, aku bisa menebus segala kesalahanku terhadapmu.

Yang selalu kamu cinta,

Umirah Ramata

Perlahan airmata Eva menetes membasahi kertas yang ia pegang.
Imran hanya bisa terduduk, dengan lutut yang bersentuhan dengan lantai.

“Ternyata kau, Imran.”

1 Komentar

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: