Saat Galau Akademik Menyapa

· CERPEN
Penulis

(KARYA Irna Purwandari.)

Susan susan
Besok gede mau jadi apa
Aku kepingin pinter
Biar jadi dokter
Kalau kalau benar
Jadi dokter kamu mau apa
Mau suntik orang lewat
Jus jus jus

Terdengar lantunan keras musik dari rumah sebelah diiringi dengan nyanyian Rina, tetanggaku yang masih kelas 3 SD. Mungkin itu memang lagu favoritnya. Sudah berkali kali aku mendengar dia menyanyikan lagu itu, tapi baru kali ini aku merasa tertohok mendengarnya. Aku sendiri tak tahu ingin jadi apa. Padahal aku sudah menginjak kelas 3 SMA. Ujian Nasional sudah hampir tiba. Kegalauan menghadapi UN dan memilih jurusan sedang melanda sebagian warga SMA 3 Gemilang, termasuk aku. Ya, hampir semua temanku atau bahkan mungkin semua warga kelas tiga ingin melanjutkan kuliah tentu saja, bukan kerja. Aku juga ingin kuliah seperti mereka. Meskipun aku dari keluarga yang kurang mampu, tapi tidak pernah terbersit di pikiranku untuk bekerja. Gengsiku begitu tinggi.
           Hingga suatu hari guru BK ku mengumumkan sesuatu yang membuatku lega.
Ternyata ada jalur kuliah untuk orang-orang yang kurang mampu. Bidik Misi namanya. Kuliah dengan biaya nol untuk mahasiswa yang kurang mampu dan berprestasi. Segera aku ke ruang BK melihat syarat syarat dan segala hal tentang beasiswa itu. Ternyata kakak kelasku juga banyak yang kuliah gratis dengan beasiswa itu. Sampai dirumah aku konsultasi dengan orang tua tentang hal itu. Orang tuaku mendukung dan mereka bilang kalaupun aku tidak diterima lewat beasiswa itu mereka tetap mau aku kuliah walaupun mereka harus menjual sepetak tanah kecilku yang ditanami pohon mahoni. Aku senang sekali. Hanya satu yang masih mengganjal di hatiku. Jurusan apa yang ingin aku pilih ?benar benar belum ada gambaran. Bagiku, sekolah hanyalah ajang bermain, mencari teman, dan berkompetisi mencari nilai. Dan sekarang aku baru sadar kalau aku hanyalah seonggok manusia tanpa tujuan dan cita-cita. Tapi aku harus berubah. Mulai sekarang aku harus segera merancang masa depanku. Aku hanya orang beruntung yang kurang bersyukur jika tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya. Aku beruntung karena kakakku saja dulu memilih melanjutkan di SMK dan langsung bekerja karena tidak ingin merepotkan orang tua. Bekerja sampai larut malam setiap harinya. Hari Minggu kakakku kuliah. Ya, akhirnya kakakku bisa kuliah dengan biaya sendiri yang ia dapatkan dari kerja kerasnya. Berbeda dengan aku yang hanya karena gengsi aku tetap ingin melanjutkan di SMA dan sekarang ingin kuliah juga. Untuk itu aku harus bisa mempertanggungjawabkan kelakuanku ini. Mulai hari itu aku jadi rajin ke ruang BK untuk konsultasi jurusan, menghabiskan kocek untuk pergi ke warnet mencari info sebanyak mungkin, bahkan sms dan ngobrol dengan beberapa kakak kelas yang dulunya tidak kenal agar mendapat pencerahan. Namun, aku masih saja bingung ingin melanjutkan kuliah dimana. Ternyata memilih universitas tidak semudah sewaktu memilih SMA. Teringat dulu waktu aku kelas 3 SMP.

Dulu aku sekolah di SMP N 21 Temalang. Sewaktu kelulusan usai, kebanyakan teman-temanku langsung bedol desa berebut meneruskan ke SMA N 1 Temalang yang notabene merupakan SMA terbaik di Temalang..Tapi tidak dengan aku. Aku menginginkan suasana dan atmosfir baru dan kuputuskan untuk sekolah di Gemilang, kota yang lebih ramai, menarik dan pendidikannya pun maju. Bersama kakakku aku keliling melihat-lihat SMA di Gemilang. SMA 1 Gemilang adalah SMA terfavorit di Gemilang, tapi aku enggan untuk mendaftar disana. Waktu ada yang bertanya padaku aku hanya menjawab ala kadarnya “Masuknya harus tes dulu, ribet, kita cari nem aja susah masa ngga ada gunanya, sayang banget kan ?”. Mereka hanya geleng geleng kepala. Ketika sedang mengunjungi SMA 3 Gemilang yang katanya juga lumayan favorit, aku melihat seorang cowok familiar yang sedang bercakap cakap dengan temannya. Setelah kulihat dari jarak dekat, ternyata dia adalah Kak Seto. Seto Mahendra Saputra. Bisa dibilang aku adalah pengagum rahasianya. Dulu sepulang sekolah aku seringkali melakukan hal konyol. Kebetulan rumah kami searah. Kadang kadang aku menunggu angkutan umum di halte sampai beberapa jam hanya karena ingin ada di bus yang sama dengannya. Dan tenyata benar dia sekolah disini. Hal inilah yang membuatku tergerak untuk mendaftar di SMA 3 agar aku bisa satu sekolah dengannya. Aku pun diterima di SMA 3 karena seleksinya hanya menggunakan NEM dan waktu itu kebetulan nemku cukup bagus. Alasan yang simpel tapi bodoh menurut pandangan orang dewasa. Mengingatnya pun membuatku malu dan tertawa sendiri. Tapi kali ini alasan yang simpel bukanlah alasan yang tepat untuk memutuskan aku harus kuliah dimana dan jurusan apa. Ini menyangkut masa depanku. Bukan main-main. Kasihan orang tua yang sudah sanggup ingin membiayaiku kuliah jika aku hanya menetukan jurusan dengan menuruti pujaan hati atau bahkan menghitung kancing baju. Beruntung di sekolahku diadakan semacam psikotes untuk membantu memilih jurusan. Aku tak sabar menanti hasilnya. Tibalah saat pengumuman. Tiba tiba Diko mengagetkanku sambil berteriak keras “Hoi Ri, sumpah kamu sebenernya cewek atau cowok sih ?gila masak punyamu hasilnya teknik perminyakan sama teknik pertambangan ?”. Aku langsung membayangkan aku kerja nun jauh di Kalimantan jadi kuli tambang terus langsung gosong seketika. Ibu guru yang mendengar celotehan kami akhirnya menjelaskan bahwa teknik bukan hanya untuk laki laki dan menjelaskan prospek kerjanya dengan lebih rinci sehingga membuatku lega.

Musim sosialisasi pun tiba. Diantara beberapa universitas yang paling menarik menurutku ITB. Selain memang bagus, jas almamaternya pun keren. Tiba tiba aku ingin sekali melanjutkan di ITB. Setelah kesana kemari mencari info selengkap lengkapnya akhirnya pilihanku jatuh di FTI ITB. Pendaftaran jalur undangan pun dimulai. Semua siswa berbondong bondong mengumpulkan formulir ke ruang BK. Sebelum aku benar benar memilih ITB aku minta pendapat guru BK ku. Beliau kemudian berkata, “Kalau kamu berani ya silahkan, tapi tahun kemarin untuk jalur undangan kakak angkatan kita belum ada yang bisa tembus ITB, saya sarankan pilih yang lain saja.”Sungguh kata-katanya membuatku galau. Galauku bertambah ketika mendengar temanku mengatakan bahwa Bandung itu biaya hidupnya mahal, kakaknya sendiri yang mengalaminya. Katanya makanan yang murah disana bisa dihitung dengan jari. Lagipula biaya masuknya sajalebih dari limapuluh juta. Orang tuaku pasti akan terkejut tingkat akut. Membayangkan bergaul dengan anak-anak borju aku merasa mual. Walaupun pernah ada cerita anak tidak mampu juga bisa kuliah di ITB, tapi pasti tidak seberapa dan syaratnya juga pasti sangat fantastik. Hanya ada satu kemungkinan. Bidik Misi. Tapi kemudian aku membayangkan jika aku tidak diterima bidik misi tetapi diterima di ITB maka bagaimanapun juga aku tidak boleh menolak jika tidak ingin sekolahku di blacklist. Dapat uang berjuta juta darimana ?lima juta saja bagi orang tuaku sudah cukup besar. Akhir kata, aku tidak punya keberanian untuk memilih ITB. Aku hanya tidak ingin mengambil resiko terlalu besar dan aku pun beralih ke UGM meskipun hatiku masih melekat di ITB. Institut Terbaik Bangsa yang sekaligus juga Institut Termahal Biayanya. UGM. Dengan jas almamater yang bisa dibilang kurang keren, tapi UGM juga merupakan universitas terbaik di Indonesia yang banyak dari teman-temanku yang ingin diterima disana. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, dan biaya hidup juga tidak mahal, serta biaya masuk ditentukan dengan gaji orang tua. Hanya saja jurusan apa yang ingin kuambil aku masih bingung. Ketika minta pendapat kakak kelas dan teman teman hampir semua menyarankan kedokteran. “Kamu tuh pinter banget, ambil kedokteran aja pasti diterima, yang lain yang biasa biasa aja berani kok ambil kedokeran masak kamu enggak ?Ngga usah terlalu khawatir soal biaya, belum tentu kan ngga dapat bidik misi ?”. aargghh sebenarnya bukan itu masalahnya. Lihat darah saja merinding dan aku benar benar tidak tertarik dengan dunia kedokteran yang full dengan materi biologi. Menghafal materi ulangan biologi saja aku ogah ogahan. Kembali mengingat psikotesku dan tidak sukanya aku dengan biologi akhirnya aku menyadari memang tidak ada yang menggelitik hatiku kecuali teknik. Setelah serching “jurusan teknik yang paling bagus di UGM” dengan mbah gugel ternyata yang paling keren adalah teknik kimia. Aku cari info sebnyak mungkin tentang teknik kimia. Ternyata memang prospek kerjanya luas, gaji besar, dan yang dipelajari juga sangat menantang. Dan tiba tiba saja aku ingin sekali diterima di Teknik Kimia UGM. Mungkin inilah Kata Hati. Kulihat lagi formulir undanganku. Setiap siswa diberi kesempatan memilih 4 jurusan tetapi maksimal harus 2 universitas. Pilihan 1 aku pilih impianku, Teknik Kimia UGM. Pilihan 2, 3, dan 4 akhirnya aku kosongkan karena tidak tahu harus memilih apa. Banyak teman temanku yang kemudian bilang, “Sombong banget kamu Ri, mentang mentang pinter, terus positif diterima gitu ya? sampai sampai cadangan pun nggak kamu isi semua” Aku pun menjawab, “Bukan begitu, aku cuma ngga ada yang yakin selain itu, takutnya kalau diterima malah nyesel gara-gara ngga cocok, lagian masih ada snmptn tulis juga”. Tapi entah, waktu itu tak ada yang mengerti. Padahal itulah kenyataannya. Aku terlalu buta dengan jurusan yang aku inginkan, aku hanya tidak ingin menyesal jika mengarang jurusan dan mungkin saja akhirnya diterima.

26 Mei 2012, 17.00 Pengumuman undangan tiba. Meskipun pesimis tetap saja harapan diterima masih tetap ada. Dengan hati berdebar debar tak karuan aku akhirnya memberanikan diri membuka pengumuman. Dan bukan kata selamat yang aku terima. Dan sekali lagi meskipun pesimis, sulit untuk menerima kenyataan ini. Semakin sedih ketika melihat ayah ibu ku yang juga ikut sedih ketika aku menjawab “aku tidak diterima”. Tapi mereka tetap menyemangatiku. Tiba tiba aku teringat ketika temanku Lita berkata, “Ri, kamu yakin diterima nggak ?”. “Nggak deh, orang kakak kelas yang di tekim aja nggak ada, PGnya juga lumayan tinggi, sekolah kita juga tidak terlalu mentereng dibanding skolah di luar kota sana”. “Tapi kan nilaimu bagus, meningkat terus, rangking 1 pararel, kurang apa coba ?kalo km yang kayak gitu aja nggak yakin terus aku gimana? Deg.. Ya, dan sekarang ternyata aku benar benar tidak diterima. Pesimisku berbuah kenyataan. Padahal si Lita aja diterima. Ada hikmah yang bisa aku ambil dari sini. Harusnya aku harus tetap optimis dan juga selalu berdoa sama Allah. Karena keajaiban dan keberuntungan itu selalu ada jika kita percaya. Tapi waktu itu berdoa pun aku tidak.

Pagi harinya, meskipun aku masih dibayang bayangi kegalauan undangan, aku sudah mulai memikirkan SNMPTN tulis. Terkadang iri melihat mereka yang diterima undangan, tidak perlu susah payah belajar soal soal SNMPTN yang tingkat kesulitannya sangat jauh berbeda dibanding soal UN. Dua minggu lagi SNMPTN tulis tiba. Tekadku kali ini, harus totalitas belajar dan berdoa. Pilihan 2 sudah mulai aku pikirkan. Dan akhirnya pilihanku jatuh pada Teknik Kimia Undip. Meskipun PGnya dan peminatnya tahun lalu tidak jauh beda dari UGM, tapi itulah yang aku pilih. Harus berani ambil resiko dan tetap optimis. Hari hari itu pikiranku hanya fokus pada snmptn tulis. Beruntung sebelumnya aku pernah 3 kali mengikuti Try out Snmptn sehingga tidak terlalu buta dengan soal snmptn. Waktu yang tersisa aku gunakan untuk belajar tiap hari dengan modal 2 buku soal latihan snmptn yang kupinjam dari kakak kelas dan satu buku yang aku beli di jogja yang harganya hanya 25.000. Sangat murah untuk ukuran buku latihan terbaru snmptn. Aku mendapatkannya dengan susah payah di sudut kota Jogja dengan bonus beberapa kali tersesat. Terkadang jika aku merasa kesulitan aku pun meluangkan waktu pergi ke sekolah untuk bertanya pada guru guruku yang tidak keberatan menjawab pertanyaanku. Di saat saat seperti ini aku sempat berpikir ingin ikut bimbel intensif snmptn di neutron atau yang lainnya. Tapi lagi lagi aku tidak tega meminta uang pada orang tuaku untuk hal ini. Kemudian aku memutuskan untuk hnya les 1 mapel saja yaitu matematika di Bu Aftri. Hanya 3x pertemuan dan kuambil uang tabungan untuk itu. Seumur hidup baru kali ini aku les. Aku agak syok karena kukira aku akan diberi soal latihan sebanyak mungkin, diajari berbagai macam trik matematika, dan tidak ada waktu yang terbuang selama 2 jam itu. Tapi ternyata tak seperti dugaanku. Disela sela menjawab soal yang aku tanyakan, Bu Aftri malah cerita tentang masa mudanya, anaknya, kegalauannya karena ingin dirolling dsb. Bukannya aku perhitungan, hanya saja yah bagaimana tidak gemas, seminggu lagi tes yang sangat sakral itu akan aku lewati karena kegagalanku dalam snmptn undangan, dan uang untuk biaya les pun aku kumpulkan dengan sedikit perjuangan. Tapi disini malah lebih banyak mendengarkan cerita lucu yang sangat ingin aku ganti dengan lantunan ceramah matematika saja. Bukan karena rasa humorisku yang rendah, aku seseorang yang sangat humoris tapi untuk saat ini aku hanya ingin benar-benar serius agar aku bisa menembus kursi di universitas impianku. Di rumah, aku pun menjadi sensitif jika ada hal yang mengusik dan mengganggu belajarku . Sehingga aku pergi menyepi di kosnya kakakku selama 3 hari. Asik memang. Kos kakakku kebetulan sepi, jadi tidak ada yang mengganggu aktivitas belajarku. Disini aku juga bisa menggunakan laptop kakakku untuk mendownload soal-soal snmptn dan aplikasi software snmptn dari internet sehingga belajarku tidak terasa membosankan.

12 Juni 2012 Hari yang mendebarkan akhirnya datang juga. Aku bangun pagi sekali dan bersiap berangkat. Tidak lupa sebelum berangkat aku minta doa restu dari ayah ibuku. Aku berangkat dengan angkutan umum. Jalan menuju kampus UGM tempat aku melaksanakan SNMPTN macet. Hal ini tidak aku perkirakan sebelumnya dan alhasil aku terlambat. Segera kucari ruanganku. Meskipun sudah survei sore harinya tapi aku sempat salah masuk ruangan, mungkin karena deg-degan akibat terlambat. Setelah kucari ruangan yang benar dan kutemukan tempat dudukku aku segera duduk dan mencoba untuk tenang. Pengisian LJK sudah dimulai. Kemudian soal dibagikan sebelum aku sempat menyelesaikan LJKku. Aku tetap mencoba tenang. Seorang pengawas menghampiriku dan menyuruhku mengeluarkan kartu SNMPTN dan kartu identitas. Setelah kukeluarkan SIM dan kartu SNMPTN beliau berkata, “Ini benar kartu identitas anda ?”. “Iya bu”, jawabku setengah bingung. “Anda yakin ?wajahnya beda sekali” sambil menatapku dengan tatapan seolah curiga. “Ya ampun orang ini kayak nggak tau aja kalau foto SIM memang jelek, wajar dong kalo beda sama yang aslinya”, kataku dalam hati. Aku hanya diam dan tetap fokus mengisi LJK karena aku memang yakin tidak melakukan pelanggaran apa apa. Kemudian dia memanggil satu pengawas lainnya. Setelah berbicara sebentar akhirnya ia mengembalikan kartuku dan segera berlalu. Setelah selesai mengisi LJK aku kerjakan soal TPA dan Kemampuan Dasar semaksimal mungkin yang aku bisa. Terkadang mengarang jawaban sambil berdoa agar Allah memberiku keberuntungan. Hari kedua, aku berangkat lebih pagi dari sebelumnya. Tes Kemampuan IPA. Matematika aku kerjakan lebih dahulu, karena matematika lah yang paling aku andalkan. Kemudian Kimia. Meskipun kimia tidak terlalu sulit, tapi kebanyakan semua orang bisa mengerjakannya, jadi untuk cari aman aku mengerjakan 12 soal dari 15. Kemudian Biologi. Seperti yang aku kira, biologi benar benar membingungkan. Aku terus memohon petunjuk kepada Allah. Hingga akhirnya aku mengerjakan 10 soal dari 15 soal sesuai targetku meskipun tidak semua aku yakin jawabannya. Dan yang terakhir aku kerjakan adalah Fisika. Targetku mulanya hanya 4, tapi aku bersyukur bisa mengerjakan 7 soal dari 15.Alhamdulillah.Sebelum pengumuman, banyak sekali kunci jawaban yang beredar di internet. Entah benar ataupun tidak, tapi hal itu sangat membuat hari hariku diselimuti kegalauan. Bagaimana tidak ?Saat aku mengecek jawaban Kemampuan Dasar, banyak sekali jawabanku yang salah. Bahkan Bahasa Inggris dari 11 yang aku kerjakan hanya benar 2. Bagaimana kalau nilaiku minus ? Aku menangis sejadinya waktu itu. Menyesali betapa aku terlalu percaya diri dalam hal mengarang jawaban. Terlalu ambisius padahal selama ini aku sudah tahu bahasa inggrisku memang kacau. Selanjutnya, aku tidak pernah lagi berani melihat kunci jawaban apapun. Aku hanya bisa pasrah, berdoa tak henti hentinya kepada Allah, berharap Allah memberikan keajaiban.

7 Juli 2012 Alhamdulillah kali ini kata Selamat yang kulihat. Ya, aku diterima di pilihan 1. Aku tau Allah pasti mendengar doaku. Bahagia sekali rasanya. Optimisku berbuah kenyataan. Sejak itu aku menyadari, berhasil bukan hanya dengan berusaha, tapi wajib disempurnakan dengan doa. Dan untuk merajut asa, keyakinan adalah kekuatan terbesar. Optimis itu perlu. Karena keajaiban dan pertolongan Allah selalu ada. Dan disinilah aku sekarang, di Kampus Biru, sebagai salah satu Mahasiswa penerima Bidik Misi tahun 2012. Dengan jas almamaternya yang orang bilang warnanya mirip karung goni, tapi aku bangga memilikinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: