Goresan Tangan 7

· CERPEN, Karyaku...
Penulis

Aku dan Bipolar Disorder

20 September 2015

Berikut adalah pengakuan seorang lelaki yang (sebut saja imran) mengidap Bipolar Disorder

assalamualakum bro n sis,aku mau numpang curhat tentang keadaaanku. Aku merasa harus berbagi tentang Bipolar Disorder karena diluar sana ada banyak yang mengidap gangguan kejiwaan ini tapi mereka takut untuk berterus-terang dan kebanyakan keluarga mereka denial (menyangkal) kalau salah satu anggota keluarganya ada yang mengalami gangguan Bipolar Disorder. Aku cuma ingin berbagi dan menyatakan bahwa siapapun yang mengidap Bipolar bahwa dia gak sendirian dan harus berjuang untuk melanjutkan dan bertahan hidup. Aku mau cerita tentang semuanya bro n sis.” Imran ramli

 

Kisah Nyata Aku Tentang Bipolar Disorder

Kebanyakan orang menganggap rendah orang yang mengalami gangguan jiwa, baik itu penderita depresi, bipolar, skizofrenia, gangguan panik dan cemas (Anxiety Disorder), dll.

Mereka juga bertanya-tanya kenapa ya kok ada hal seperti itu didunia ini dan mereka penasaran gimana rasanya. Mereka coba cari jawaban yang tepat. Tapi semakin mereka mencari, mereka semakin bingung karena mereka gak pernah ngerasain gimana menjadi seorang penderita gangguan kejiwaan. Akhirnya? mereka membandingkan penderita gangguan jiwa dengan diri mereka yang normal sampai menarik sebuah kesimpulan bahwa orang yang menderita gangguan jiwa tidak kuat ditimpa masalah, tidak berpegang pada agama, rapuh, dan stigma negatif lainnya.

Aku mengalami trauma masa kecil dimana aku sering dipukulin orang tua (cara orang tua aku mendidik memang gitu bro sis keras dengan tamparan, pukulan dan sabetan ikat pinggang) sampai aku udah kebas dan ga bisa ngerasain sakit lagi saking udah seringnya kalau berbuat kesalahan kecil itu dipukul di daerah kepala, ditampar dan aku  udah mengalami depresi di masa kecil aku karena hal tersebut. Saat SMP, dan SMA, selain depresi aku juga mengalami gembira berlebihan, mudah tersinggung, gampang marah, seperti mendengar suara yang orang lain gak bisa denger (kaya bisikan-bisikan gitu deh), sedih berlebihan, gaya bicara cepet banget sampe aku sendiri gak ngerti apa yang aku bicarakan, merasa kenal banget ma orang laen, sering mengkritik temen dan gak bisa tidur. Karena hal itu aku jadi penyendiri (temen aku jadi males temenan sama aku karena cepet marah, cepet sedih, cepet gembira berlebihan yah kalau menurut istilah orang sih katanya lebay)

Pas kuliah pun aku  merasakan kok diri aku makin kesini makin ada yang janggal kayak aku jarang tidur, aku ga bisa konsen (alhasil sering terlambat kuliah) terus aku jadi ga peka sama lingkungan (jadi males bergaul sama teman) bahkan aku  boros banget sering menghamburkan uang buat hal yang bener-bener gak penting dan aku merasa depresi banget, aku jadi ketakutan dan kayanya udah bener-bener gak ada bahagianya hidup, malahan aku bisa nih lagi seneng ketawa-ketawa tiba-tiba dalam hitungan menit aku terasa ingin nangis meraung-raung tanpa sebab.

Akhirnya aku memilih untuk ngehabisin waktu di kamar dengan menulis serta dengerin musik musik sedih. Aku ngerasa sendirian, sepi dan gak berguna, bahkan nyesel kenapa aku hidup bro sis kalo hidup aku sedepresi ini.Ketika aku masuk kampus, mood swing aku makin parah bro sis bahkan teman-teman kampus aku pun merasakan bahwa mood swing aku udah gak wajar, aku sering cari masalah buat berantem ma temanku. Cuma waktu itu temanku  masih menganggap aku cuma depresi biasa aja. Sampai aku dan orang tuaku memtuskan konsultasi  dengan  dokter SpKJ,hasil testnya ada dugaan aku menderita Bipolar.

Dari situ aku cari tahu via internet tentang bipolar dan terkejut lah aku bahwa apa yang selama ini aku alami dari smp, sma, sampai sekarang kuliah ya persis dengan definisi Bipolar. Aku jujur sama orang tua, teman-temanku tentang penyakit aku dan menyerahkan semuanya kepada tuhan. Tapi aku dijelaskan sama psikolog aku bahwa penderita bipolar itu bukan orang gila melainkan penyakit suasana hati dimana perubahan mood terjadi sangat cepat dari ceria ke depresi akut yang bisa menyebabkan penurunan kualitas hidup (jarang gaul jadi penyendiri) dan lebih parahnya suicide attempt atau percobaan bunuh diri. Penderita bipolar gampang marah, gampang bertengkar dan gak jarang nantinya akan melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain dan diri sendiri kalau gak diatasi.

Bipolar yang ku  alami disebabkan faktor genetik (ternyata anak dari sauadara nenek aku  juga seorang penderita bipolar bro sis, tapi nenekku   menyangkal gak mau mengakui bahwa omku itu mengalami bipolar) dan trauma lingkungan keluarga yang dikit-dikit main tangan.Sekarang aku masih melakukan terapi untuk bipolar disorder, aku beruntung karena bapak dan ibuku, saudaraku serta temen-temen aku ngedukung dan support aku terus-terusan untuk sembuh.

Aku cuma bisa berdoa dengan Tuhan yang Maha Esa agar aku diberi kekuatan menghadapi semua dan diberi kesembuhan karena aku ga mau ngecewain orang orang yang sudah mendukung aku.Dan aku mau sembuh, aku ga mau nanti ketika aku punya keturunan nanti  juga menderita bipolar dan jadi sasaran kemarahan aku karena bipolar aku ini. Aku cuma mau sembuh dan hidup normal selayaknya orang lain.

 

Pesan Aku

Ada banyak yang bilang bahwa bipolar itu karena si penderita kurang mendekatkan diri sama Tuhan. Kalau menurut aku yah bro sis, Tuhan menciptakan manusia untuk diuji melalui cobaan dan gangguan jiwa adalah salah satu cobaan dari Tuhan. Agama memang dapat membantu seseorang dalam proses penyembuhan gangguan jiwa. Tapi keimanan bukan faktor utama yang menyebabkan gangguan jiwa.

Terus ada juga orang yang mencibir “Ah bipolar tuh ga ada, yang ada emang kepribadian orangnya aja dari lahir kaya gitu emang gila!” gini bro sisi, kepribadian itu terbentuk dari hal yang kompleks. Peristiwa-peristiwa yang dilalui sejak lahir, didikan orang tua, serta lingkungan sekitar membentuk kepribadian seseorang. Jadi, kepribadian yang terbuka, tertutup, mudah beradaptasi, supel, pemalu, pemarah, tenang, dll tidak terbentuk begitu saja dari bawaan lahir bro n sis. Ada penjelasan bagaimana terbentuknya yang tersimpan dalam alam tidak sadar kita. Faktor lingkungan mempengaruhi bro n sis.

 

kalau aku boleh bilang mewakili temen temen aku yang juga penderita bipolar dan sangat menderita, aku mau bilang:

Bukan keinginan kami untuk menderita gangguan jiwa dan bukan kami pula yang sepenuhnya bersalah atas apa yang membuat jiwa kami terganggu. Kelihatannya mudah untuk mengontrol mood dan menahan diri jika kalian berpikir dari sisi normal kalian. Tapi bagi kami yang memiliki gangguan jiwa, hal itu sangat berat. Kami membutuhkan dukungan, pengertian dan pelukan dari kalian untuk meyakinkan diri kami bahwa kami tidak sendiri menghadapi ini semua. Kami ingin bangkit dari depresi dan merasakan indahnya dunia seperti kalian. Kami berjuang keras untuk sembuh, kami juga ingin seperti kalian yang normal. Tapi kami butuh proses. Semoga kalian bisa mengerti dan tolong jangan hakimi kami.

 

Catatan Kecil

Bagi agan-agan yang memandang rendah atau meremehkan kami (penderita bipolar dan kejiwaan lainnya) semoga pikiran agan lebih terbuka. Bersyukurlah agan bisa menjalani hidup dengan normal dan bisa mengendalikan diri anda sepenuhnya. Kita manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Tuhan bisa saja memberi kita masalah, cobaan, kebahagiaan, rezeki, dan ‘kejutan’ lainnya. Semoga Tuhan selalu memberikan rahmat-Nya pada kita semua.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: